Senin, 15 Juli 2024

BERKAH KETAQWAAN

 

Tersebutlah seorang pemuda yang sangat bertaqwa, dia sangat lugu dan polos. Suatu ketika pemuda itu belajar kepada seorang syaikh. Setelah cukup waktu dalam menuntut ilmu kepada syaikh itu, tibalah pemuda itu dan teman-temannya untuk meninggalkan tempat mereka belajar.

“Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketaqwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut. "Nasehat syaikh kepada pemuda itu dan teman-teman nya.

Kemudian pemuda itu kembali pulang ke rumahnya.

“Ibu apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan oleh Ayahku? "Tanya pemuda kepada ibunya suatu hari.

"Ayahmu sudah meninggal. Kenapa kau menanyakan pekerjaanAyahmu?” jawab ibunya dengan suara bergetar.

Pemuda itu terus mendesak agar di beritahu tentang pekerjaan ayahnya, dan si ibu selalu mengelak. Namun akhirnya, ibunya terpaksa memberi tahu meskipun dengan berat hati “Ayahmu dulu seorang pencuri," beritahu ibunya dengan nada jengkel.

"Guru saya memerintahkan kepada kami murid-muridnya, untuk bekerja seperti pekerjaan Ayahnya dan dengan ketaqwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut." kata anaknya.

"Hai, apakah dalam melakukan pekerjaan mencuri itu ada ketaqwaan?" sela ibunya.

“Ya, begitu kata bapak Guru, jawab anaknya dengan polos.

Kemudian pemuda itu pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana cara pencuri itu melakukan pekerjaannya, hingga akhirnya pemuda itu mengetahui cara dan tehnik mencuri.

Usai shalat isya', pemuda itu menyiapkan alat-alat yang akan digunakan mencuri dan menunggu sampai semua orang tertidur lelap.

Setelah waktunya dianggap tepat, pemuda itu keluar rumah untuk menjalankan pekerjaan ayahnya waktu dulu, seperti perintah gurunya. Untuk awal pekerjaannya, dimulai dari rumah tetangganya.

Saat hendak masuk ke dalam rumah yang akan dijarahnya, diajangat pesan gurunya agar selalu bertaqwa. Padahal mengganggu rumah tetangganya bukanlah termasuk taqwa. Lalu rumah tetangganya itu ditinggalkan.

Pemuda itu melewati rumah lain, “Ini rumah anak yatim, dan Allah memperingatkan agar tidak memakan harta anak yatim," bisiknya pada dirinya sendiri.

Kembali pemuda itu meninggalkan rumah yang hendak dicurinya. Kemudian ia berada di rumah seorang pedagang yang kaya dan kebetulan tidak ada penjaganya, dan semua orang tahu, bahwa pedagang itu memiliki harta yang melebihi kebutuhannya.

"Hmmm, di sinilah tempat yang tepat," gumam pemuda itu.

Pemuda itu kemudian memulai aksinya, dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci palsu yang telah disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata sangat besar dan mempunyai

banyak kamar. Dia berkeliling di dalam rumah, hingga ia menemukan kamar tempat menyimpan harta.

Pemuda itu membuka sebuah kotak, di kotak itu terdapat emas, perak dan uang dalam jumlah yang banyak. Ketika pemuda itu hendak mengambil dan dimasukkan kantung yang telah disiapkan, dia berkata pada dirinya sendiri;

“Eh, jangan! Guru berpesan agar aku selalu bertaqwa. Barangkali pedagang pemilik rumah ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Bila demikian, sebaiknya kukeluarkan zakatnya terlebih dulu."

Pemuda itu mengambil buku-buku catatan yang ada di tempat itu dan menghidupkan lentera kecil. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung, dia memang pandai menghitung dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada di dalam kamar itu, lalu memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan.

Pemuda itu terus menghitung dan menghabiskan waktunya sampai berjam-jam. Ketika sadar, dilihatnya fajar telah menyingsing.

“Ingat, kau harus bertaqwa kepada Allah. Kau harus melaksanakan shalat dulu!" bisiknya kepada dirinya sendiri.

Pemuda itu kemudian keluar menuju kamar mandi mengambil wudhu, lalu menuju ruang tengah untuk shalat.

Tiba-tiba pemilik rumah itu terbangun. Betapa heran dia ketika melihat ada lentera yang menyala dan kamar tempat hartanya dalam keadaan terbuka dan ruang tengah ada seorang yang tengah melakukan shalat.

“Ada apa ini?” tanya istri pedagang itu.

“Demi Allah, aku juga tidak tahu,” jawab suaminya seraya menghampiri pemuda itu.

"Kurang ajar! Siapa kau? Dan sedang apa kau di sini?"

"Shalat dulu, baru nanti bicara. Ayo pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi imam," jawab pemuda itu dengan enteng, seperti tak melakukan apa-apa.

Dengan perasaan khawatir dan penuh tanda tanya pemilik rumah itu menuruti kehendak pemuda itu. Tetapi wallahu a'lam bagaimana dia bisa shalat?

"Sekarang, coba ceritakan. Siapa kau dan apa urusanmu?" tanya pemilik rumah itu setelah selesai shalat.

"Saya ini seorang pencuri," jawab pemuda itu.

"Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?" tanyanya lagi.

“Aku menghitung zakat yang belum Anda keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya juga sudah kupisahkan, agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak."

Pedagang pemilik rumah itu menjadi heran dan bingung dengan apa yang dilakukan pemuda pencuri di rumahnya itu.

"Hai, ada apa sebenarnya denganmu? Apa kau gila?" katanya.

Kemudian pemuda itu menceritakan semua yang dialami, mulai dari dia belajar kepada gurunya dan semua nasehat yang diberikan syaikh kepada dirinya.

Mendengar cerita pemuda itu, pemilik rumah itu menjadi terbengong. Namun ia kagum kepada pemuda pencuri itu yang dapat mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam meng-hitung, juga kejujuran ucapannya, serta juga mengetahui manfaat zakat.

Pemilik rumah itu kemudian menemui istrinya. Berdua mereka berunding. Beberapa saat kemudian, kembali mereka menemui pemuda itu.

"Bagaimana andai kata kau kunikahkan dengan putriku?” kata pedagang pemilik rumah itu, yang memang mempunyai seorang anak gadis. “Aku jadikan kau pegawaiku, kuangkat menjadi juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini."

Pemuda itu sejenak diam, dipikirkan tawaran pedagang itu, dan akhirnya ia mengambil keputusan.

"Baiklah, aku setuju.” jawab pemuda itu.

Pagi hari itu pula, pedagang kaya itu memanggil para saksi untuk acara akad nikah putrinya dengan pemuda itu.

***

Copas dr buku “Dongeng sebelum tidur”

Tidak ada komentar:

BERKAH KETAQWAAN

  Tersebutlah seorang pemuda yang sangat bertaqwa, dia sangat lugu dan polos. Suatu ketika pemuda itu belajar kepada seorang syaikh. Setelah...